Beragam Ungkapan dan Pemahaman dalam Timbangan Syariat (Al Manahil Lafzhiyyah)

29 05 2007

Al Manahy Lafzhiyyah

Judul Indonesia : Beragam Ungkapan dan Pemahaman dalam Timbangan Syariat.
Judul Asli : Al-Manahil Lafzhiyah
Penulis : Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Penerjemah : Abu Zaid Resa Gunarsa
Editor : Abu Umar Al-Bankawi
Muraja’ah : Al-Ustadz Ali Basuki
Penerbit : Penerbit Al-Ilmu.
Cetakan : Pertama
Tahun Terbit : Dzulqa’dah 1427 H – Desember 2006
Harga : Rp.16.000,-
Ukuran : 14 cm x 21 cm
Jumlah Halaman : 103
Kertas Isi : HVS 70
Berat : 100 gram

Buku ini berisi pembahasan tentang beragam ungkapan dan pemahaman yang lazim digunakan oleh masyarakat, dan sejauh mana penggunaan ungkapan dan pemahaman itu dibolehkan atau dilarang sesuai timbangan syariat, seperti bolehkah kita mengucapkan “Semoga Allah melanggengkan hari-harimu?”, bolehkah memberikan sebutan ‘Almarhum’ atau ‘Almarhumah’ pada orang yang telah meninggal dunia atau apakah hukum memakai nama dengan nama ‘Iman’ atau ‘Jibril’ ? dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lainnya.

Setiap pembahasan permasalahan dikemas dalam bentuk tanya jawab yang terdiri dari 105 permasalahan. Seperti buku-buku terjemahan yang lain, di dalam buku inipun pembaca akan banyak menjumpai beberapa istilah dan kata-kata serapan dari bahasa Arab.

Mengingat betapa pentingnya bagi setiap muslim untuk berhati-hati dan berilmu sebelum berucap dan berbuat, sebagaimana firman Allah Ta’ala :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S Al- Israa’ : 36)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”.(Hadits Riwayat Bukhari no.6018 dan Muslim no.47).

Sehingga menjadikan buku ini menjadi sangat penting dan menarik untuk dibaca oleh setiap muslim agar tidak terjatuh dalam kesalahan–kesalahan penggunaan ungkapan dan lafazh yang mungkin saja bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa syirik, Na’udzubillahi min dzalik.

Selain itu, pembahasan masalah yang dikemas dalam bentuk tanya jawab akan lebih memudahkan pembaca dalam memahami setiap permasalahan yang dibahas. Banyaknya istilah dan kata-kata serapan dari bahasa Arab yang terdapat dalam buku ini tentunya menuntut pihak penerjemah dan editor untuk dapat memberikan penjelasan tentang makna dan definisi dari istilah atau kata serapan tersebut kepada pembaca, karena bukanlah hal yang tidak mungkin masih banyak pembaca yang masih awam dan asing dengan istilah tersebut. Di sisi lain buku ini juga dapat membantu pembaca untuk menambah perbendaharaan kosa kata dan istilah serapan bahasa Arab.

Pepatah mengatakan ‘Tak ada gading yang tak retak’ dalam buku inipun masih dijumpai adanya kesalahan dalam pengetikan seperti kata ‘isrtinya’ seharusnya ‘Istrinya’, ‘jusrtu’ seharusnya ‘justru’ (lihat halaman : 54 dan 56). Namun demikian hal itu tidak terlalu mempengaruhi isi dan masalah yang dibahas, dan buku ini tetap penting dan menarik untuk dibaca oleh setiap muslim. Wallahu a’lamu bish-shawab.

** Resensi oleh Hermi Putrianti, Bogor.

Sebagian orang berkata, “Mengoreksi lafzh itu tidak penting, asal hati tetap selamat.” Apakah pernyataan ini benar ? Apa pula hukum ungkapan “Semoga Allah memanjangkan umurmu” atau “Semoga umurmu panjang” ? Bolehkah kita menggunakan ungkapan ‘almarhum’ bagi orang yang telah meninggal ? Bagaimana timbangan syariat terhadap gelar ‘Asy-Syahiid” ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas berkaitan dengan beragam ungkapan yang lazim digunakan oleh masyarakat kita. Seringkali ungkapan-ungkapan tersebut diucapkan oleh seseorang tanpa memahmi hukumnya dalam syariat Islam yang begitu sempurna ini.

Oleh karena itu, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsiamin rahimahullah memberikan jawabannya. Beliau juga memberikan penjelasan-penjelasan yang terperinci sesuai dengan timbangan syariat Islam. Karenanya, selamat membaca buku yang cukup penting ini, agar kita tidak terjatuh dalam kesalahan-kesalahan dalam penggunaan lafazh-lafazh tersebut.

Buku ini bisa didapatkan secara online di Al-Ilmu.Com

Daftar Isi :

Pertanyaan 1.
Sebagian orang berkata, “Mengoreksi lafazh tidak penting, selama hati tetap selamat”. Apakah perkataan ini benar? 1

Pertanyaan 2.
Apa hukum memakai nama dengan nama-nama ini, Abrar, Malak, Iman, Jibril, Jani? 1

Pertanyaan 3.
Sejauh mana kebenaran ungkapan, “Buatlah perantara antara kamu dan Allah dan buatlah perantara antara kamu dan Rasul?” 1

Pertanyaan 4.
Sebagian penceramah berkata, “Wahai orang-orang yang saya cintai karena Rasulullah”. Sejauh mana kebenaran ungkapan ini? 2

Pertanyaan 5.
Jika seseorang menulis surat dan ia berkata di dalamnya, “Kepada bapakku Al-’Aziz” atau “Kepada saudaraku Al-Karim” apakah padanya ada hal yang terlarang? 2

Pertanyaan 6.
Bagaimana dengan ungkapan “Semoga Allah melanggengkan hari-harimu”? 4

Pertanyaan 7.
Apa pendapat anda tentang ungkapan-ungkapan “Jalalah” (keluhuran/kemuliaan), “Shahibul Jalalah” (orang yang memiliki kemulian), “Shahibus sumu” (orang yang memiliki ketinggian)? Serta ungkapan “Saya berharap dan bercita-cita”? 4

Pertanyaan 8.
Ada perkataan-perkataan seperti; “Saya memohon kepadamu”, “Salamku”, “An’ama shabahan”, “An’ama masa’an”, apakah perkataan-perkataan ini benar? 5

Pertanyaan 9.

Bagaimana dengan orang yang meminta dengan wajah Allah, ia berkata, “Saya meminta kepadamu dengan wajah Allah ini dan itu”. Apakah hukum ungkapan ini?
5

Pertanyaan 10.
Bagaimana pendapat anda orang yang berkata, “Saya beriman kepada Allah, bertawakal kepada Allah, berpegang teguh kepada Allah dan meminta balasan kepada Rasulullah”? 6

Pertanyaan 11.
Apa hukum ungkapan, “Semoga Allah memanjangkan hidupmu”, “Mudah-mudahan umurmu panjang”? 6

Pertanyaan 12.
Bagaimana dengan seorang khatib yang berkata tentang Perang Badr, “Rabb bertemu dengan syaithan”. Sesungguhnya sebagian ulama mengatakan bahwa perkataan ini adalah kekafiran yang jelas karena ungkapan ini secara zhahir berarti menetapkan sifat bergerak bagi Allah ‘azza wa jalla. Kami memohon penjelasan hal ini? 7

Pertanyaan 13.
Sebagian orang menggunakan ungkapan yang bermacam-macam ketika mengucapkan salam. Di antaranya, “Massakallahu bilkhair” (selamat sore), atau “Allah bilkhair”, “Saakallahu bilkhair”, “Kallahu bilkhair”, sebagai pengganti lafazh salam yang disebutkan (dalam hadits –pent) dan apakah boleh memulai ucapan salam dengan lafazh, “‘Alaikas salam”? 10

Pertanyaan 14.
Bagaimanakah dengan ungkapan ini, “Allah bukanlah materi”? 11

Pertanyaan 15.
Sebagian manusia menggunakan ungkapan “Allah tidak memukul dengan tongkat orang yang berbuat zhalim kepada-Nya”. Kemudian Allah menimpakan musibah kepada orang yang berbuat zhalim tersebut. Apakah ungkapan ini benar dan apakah ini termasuk An-Nafil Mu’dhil yang dilarang? 12

Pertanyaan 16.
Sering kita melihat pada dinding tulisan lafazh jalalah “Allah” dan disampingnya lafazh “Muhammad” atau terdapat pada buku dan sebagian mushaf. Apakah tempat untuk lafazh ini benar? 12

Pertanyaan 17.
Bagaimana menggabungkan antara perkataan sahabat “Allah wa Rasuluhu ‘alam”(Allah dan RasulNya yang lebih tahu) dengan “Wau ataf” dan penetapan mereka atas hal itu, dengan pengingkaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang yang berkata “Masya’a Allahu wa syita” (Apa yang dikehendaki Allah dan engkau)?
13
Pertanyaan 18.
Sebagian orang berkata ketika meminta orang lain mengerjakan atau memberinya sesuatu, “Berikan kepadaku maka Allah tidak menghinakanmu”. Apakah ungkapan ini benar? Apakah benar Allah ‘azza wa jalla kadang menghinakan seorang hamba? 14

Pertanyaan 19.
Ada ungkapan “Saya tidak membenarkan atas Allah” atau ungkapan yang dipakai oleh orang awam ketika ia ditanya tentang keadaannya, ia berkata, “Allah bertanya tentang keadaanmu” atau “Allah mencari tahu tentang keadaanmu”. Bagaimana pendapat anda tentang ungkapan-ungkapan ini? 15

Pertanyaan 20.
Apakah boleh seseorang bersumpah atas Allah? 15

Pertanyaan 21.
Bagaimana tentang memberi gelar “Imam”? 18

Pertanyaan 22.
Sebagian kaum laki-laki menggunakan istilah ummu Al-mu’minin (ibu bagi kaum muslimin) untuk para istrinya. Mereka berkata misalnya, “Saya pergi bersama ummul mu’minin ke tempat keluarganya” atau “Saya memberi ummul mu’minin hadiah” atau yang lainnya. Apakah penggunaan istilah ini untuk istri benar? 18

Pertanyaan 23.
Apa hukum berkata, “Wahai ‘abdi (budakku –pent)” dan “Wahai amati (budak perempuanku)”? 19

Pertanyaan 24.
Apakah hukum perkataan orang yang berkata “Saya bebas”? 19

Pertanyaan 26.
Bagaimana dengan orang yang melakukan maksiat yang ketika ditegur ia mengatakan, “Saya merdeka dalam semua perilaku saya”?

Pertanyaan 26.
Bagaimana dengan seseorang yang membaca “Innallaha ‘ala ma yasya’u qadir” (Sesungguhnya Allah maha kuasa atas sesuatu yang Dia kehendaki) ketika menutup doa atau yang lainnya? 20

Pertanyaan 27.
Apa hukum berkata “Saya mu’min Insya Allah”? 25

Pertanyaan 28.
Ketika seseorang wafat sering kita mendengar atau membaca ungkapan berupa ayat, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. Atau ungkapan, “Ia telah berpindah ke dalam rahmat Allah”, atau “Si fulan yang diberi rahmat (almarhum)”, atau “almarhum fulan”, apa komentar anda atas semua ini? 26

Pertanyaan 29.
Bagaimana dengan ungkapan “lakum tahiyyatuna” (bagi kalian salam kami) atau “uhdi lakum tahiyyati” (aku hadiahkan bagi kalian salamku)? 27

Pertanyaan 30.
Sebagian orang berkata, “Allah telah menjadikan ini ada” sejauh mana kebenaran ungkapan ini? Apa perbedaan ungkapan ini dengan ungkapan-ungkapan, “Allah telah menciptakan ini” atau ” Allah telah menggambarkan ini”? 28

Pertanyaan 31.
Apa hukum bernama dengan “Iman”? 28

Pertanyaan 32. sama dengan yang diatas. 29
Pertanyaan 33.
Apa hukum gelar-gelar berikut; “Hujjatullah”, “Hujjatu Al-Islam”, “Ayatullah”? 29

Pertanyaan 34.
Kita sering membaca atau mendengar beragam ungkapan seperti, “Atas nama negara” atau “Atas nama bangsa” atau “Atas nama nasionalisme Arab”. Sejauh mana kebenaran ungkapan-ungkapan ini? 29

Pertanyaan 35.
Kita sering mendengar ungkapan, “Dengan keutamaan fulan, keadaan ini berubah” atau “Dengan kerja kerasku, jadilah seperti ini”? 30

Pertanyaan 36.
Sebagian orang berkata ketika ta’ziyah kepada keluarga mayit, “Seluruh sisa dalam hidupmu”, dan keluarga mayit menjawab, “Hidupmu yang masih tersisa”. Apakah ungkapan ini benar? 31

Pertanyaan 37.
Apa hukum pujian seseorang kepada Allah ta’ala dengan ungkapan “Di tangan-Nya kebaikan dan keburukan”? 31

Pertanyaan 38.
Bagaimana dengan perkataan orang awam “Tabarakta ‘alaina” (kamu mendatangkan berkah bagi kami), “Zaratna Al-barakah” (kami kedatangan berkah)? 33

Pertanyaan 39.
Sebagian orang memakai istilah “At-Turats Al-Islami” (warisan Islam) atau “Buku-buku dari turats” untuk karya-karya salaf. Apakah istilah ini tepat? 34

Pertanyaan 40.
Apakah dalam Islam terdapat tajdid tasyri’ (reformasi syari’at? 34

Pertanyaan 41.
Apa hukum ungkapan “Qadar ikut campur” atau “Inayah Allah ikut campur”? 36

Pertanyaan 42.
Apa hukum bernama dengan nama-nama Allah seperti Karim, Aziz dan yang serupa dengannya? 36

Pertanyaan 43.
Apa hukum bernama dengan nama-nama Allah ta’ala seperti dengan Al-Rahim dan Al-Hakim? 37

Pertanyaan 44.
Apa hukum memuji diri sendiri? 38

Pertanyaan 45.
Sebagian orang berkata dengan beberapa ungkapan di antaranya, “Wahai haji” dan “As-Sayyid (sang tuan) fulan”. Sejauh mana kebenaran ungkapan-ungkapan ini dari sisi syari’at? 39

Pertanyaan 46.
Apa hukum perkataan yang biasa diungkapkan oleh sebagian orang, “Haram atas kamu berbuat ini dan itu”?

Pertanyaan 47.
Anda menyebutkan pada fatwa 46 bahwa pengharaman ada yang sifat qadari dan ada yang bersifat syar’i. Kami berharap dari kemuliaanmu agar menjelaskan beberapa contohnya? 40

Pertanyaan 48.
Kita sering mendengar dan membaca istilah “Kebebasan berpikir”. Istilah ini adalah seruan pada kebebasan berkeyakinan, apa komentar anda tentang hal itu? 42

Pertanyaan 49.
Apakah boleh seseorang berkata kepada seorang mufti, “Apakah hukum Islam dalam masalah ini dan itu?” atau “Apakah pendapat Islam?” 43

Pertanyaan 50.
Sejauh mana kebenaran pemakaian istilah “Hewan yang berbicara” untuk manusia? 43

Pertanyaan 51.
Sebagian orang menggunakan beberapa ungkapan seperti, “Saya telah rugi dalam haji sejumlah ini”, “Aku telah rugi dalam umrah sejumlah ini”, “Aku telah rugi dalam jihad sejumlah ini dan itu”, sejauh mana kebenaran ungkapan-ungkapan ini? 44

Pertanyaan 52.
Sebagian orang berkata, “Kamu wahai fulan, adalah khalifah Allah di bumi-Nya”. Apa komentar anda atas ungkapan ini? 44

Pertanyaan 53.
Sebagian orang menggunakan kata “ra’ini” (sudilah kiranya kamu memperhatikanku), dan yang mereka maksud adalah kata “unzhuri”. Sejauh mana kebenaran kata ini? 45

Pertanyaan 54.
Apa hukum mengatakan “rabbul bait” atau “rabbul manzil”? 46

Pertanyaan 55.
Bagaimana dengan perkataan bahwa manusia terbentuk dari dua unsur; unsur dari tanah yaitu jasad dan unsur yang datang dari Allah yaitu ruh? 47

Pertanyaan 56.
Apa yang dimaksud dengan ruh dan nafs? Apa perpedaan antara keduanya? 51

Pertanyaan 57.
Apa hukum penggunaan lafazh As-Sayyid untuk selain Allah? 53

Pertanyaan 58.
Siapakah orang yang layak disifati dengan siyadah? 53

Pertanyaan 59.
Bagaimana menggabungkan antara hadits Abdullah bin As-Syikhr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku bergegas dalam rombongan Bani ‘Amir kepada Rasulullah, lalu kami berkata, “engkau adalah sayyiduna” maka ia (Rasulullah) berkata, “As-Sayyid adalah Allah tabaraka wa ta’ala” dengan hadits tentang tasyahhud “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad” juga hadits “Aku adalah sayyid bani Adam”? 54

Pertanyaan 60.
Bagaimana dengan ungkapan “As-Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ”? 56

Pertanyaan 61.
Bagaimana menggabungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “As-sayyid adalah Allah tabaraka wa ta’ala” dengan sabdanya, “Saya adalah sayyid anak Adam” dan sabdanya, “Bangkitlah kepada sayyidmu” dan sabdanya kepada seorang budak, “Katakanlah sayyidku”? 57

Pertanyaan 62.
Bagaimana dengan ungkapan, “Kondisi menghendaki terjadi ini dan itu” atau “Takdir menghendaki ini dan itu”? 58

Pertanyaan 63.
Apa hukum ungkapan, “Telah berkehendak kekuasaan (qudrah) Allah” dan “Takdir berkehendak”? 59

Pertanyaan 64.
Apakah boleh menggunakan kata “Syahid” atas seseorang, dikatakan, “Asy-Syahid fulan”? 59

Pertanyaan 65.
Apa hukum ungkapan “fulan syahid”? 61

Pertanyaan 66.
Bagaimana dengan julukan “Syaikhul Islam”, apakah boleh? 63

Pertanyaan 67.
Apa pendapat Fadhilatus Syaikh tentang penggunaan kata sudfah (kebetulan)? 63

Pertanyaan 69.
Apakah boleh memberi nama bagi bunga-bungaan dengan seperti “Hamba-hamba matahari” karena bunga-bungaan itu menghadap matahari ketika terbit dan terbenam? 64

Pertanyaan 70:
Kami membaca sebagian penulis menulis dalam tulisannya ungkapan, “Al-’Ismah (keterjagaan dari salah dan keliru) itu hanya bagi Allah saja”. Sebagaimana yang diketahui, keterjagaan itu harus memiliki penjaga. Maka apakah ungkapan ini benar? 64

Pertanyaan 71.
Sebagian orang berkata, “Pertanda kebaikan dari Allah dan tidak padamu”. Apakah ungkapan ini benar? 65

Pertanyaan 72.
Bagaimana dengan istilah “Pemikiran Islam” dan “Pemikir Islam”? 65

Pertanyaan 73.
Pada fatwa no 72, disebutkan bahwa istilah “Pemikiran Islam” tidak boleh karena mengisyaratkan makna bahwa Islam adalah pemikiran yang mungkin benar dan mungkin salah. Sedangkan anda menyebutkan bahwa istilah “Pemikir Islam” boleh dipakai karena pemikiran seseorang selalu berubah dan terkadang benar atau sebaliknya. Akan tetapi orang-orang yang menggunakan istilah “Pemikiran Islam” menyatakan bahwa yang dimaksud adalah pemikiran pribadi dan kami tidak berbicara tentang Islam sebagai sebuah bentuk yang menyeluruh atau tentang syari’at Islam. Maka, apakah dengan penafsiran ini istilah “Pemikiran Islam” boleh dipakai atau tidak dan apa pengganti untuk istilah ini?
66
Pertanyaan 74.
Ketika disebutkan nama seorang yang menyia-nyiakan dirinya denga dosa, sebagian orang berkata, “Sesungguhnya si fulan jauh dari hidayah” atau “Dari surga” atau “Dari ampunan Allah”. Apakah hukum hal tersebut? 67

Pertanyaan 75.
Jika seseorang bertanya kepada seseorang yang lain, “Di manakah si fulan? Sudah lama saya tidak melihatnya”. Lalu orang yang ditanya berkata, “Sesungguhnya si fulan, Allah telah mengingatnya”, dan dia bermaksud dengan jawaban itu bahwa Allah telah mewafatkannya. Apakah jawaban ini benar? 67

Pertanyaan 76.
Apa hukum bernama dengan Qhadi Al-Qhudat? 68

Pertanyaan 77.
Bagaimana dengan orang yang membagi agama menjadi kulit dan isi? 69

Pertanyaan 78.
Bagaimana dengan ungkapan “Semoga setiap tahun kamu dalam keadaan baik”? 71

Pertanyaan 79.
Apa hukum melaknat syaithan? 71

Pertanyaan 80:
Sering kita mendengar orang yang sedang marah berkata, “Kalau saja saya berbuat ini dan itu” atau berkata, “Laknat Allah bagi penyakit yang telah menghalangi saya mengerjakan ini”. Sejauh mana kebenaran ungkapan ini? 72

Pertanyaan no 81
Bagaimana ungkapan “Lakallah” (bagimu Allah)? 73

Pertanyaan 82.
Bagaimana dengan ungkapan, “Kondisi tidak mengijinkan saya” atau “Waktu tidak mengijinkan saya”? 73

Pertanyaan 83.
Apa hukum menggunakan kata “Jika”? 74

Pertanyaan 84.
Bagaimana dengan ungkapan “Jika tidak karena Allah dan si fulan”? 77

Pertanyaan 85.
Bagaimana dengan ungkapan “Materi tidak fana dan tidak akan hilang juga tidak diciptakan dari ketiadaan”? 78

Pertanyaan 86.
Apa hukum berkata, “Qudrah Allah telah berkehendak”? jika jawabannya tidak boleh, kenapa? Padahal sifat selalu mengikuti yang disifatinya dan sifat selalu tidak terpisah dari Dzat Allah? 79

Pertanyaan 87.
Ada ungkapan “Saya tidak membenarkan atas Allah” atau ungkapan yang dipakai oleh orang awam ketika ia ditanya tentang keadaannya, ia berkata, “Allah bertanya tentang keadaanmu” atau “Allah mencari tahu tentang keadaanmu”. Bagaimana pendapat anda tentang ungkapan-ungkapan ini? 79

Pertanyaan 88.
Sebagian orang lisannya telah terbiasa berkata ketika mereka menanyakan seseorang yang telah Allah wafatkan, “Siapakah yang mewafatkan (al-mutawaffiy)” maka apa komentar anda tentang hal itu? 80

Pertanyaan 89.
Apa hukum ungkapan “Dimakamkan di tempat tinggal terakhir”? 80

Pertanyaan 91.
Sebagian orang menyebut mesjid dengan “Musiajid” (dengan tasghir/pengecilan sehingga artinya mesjid kecil-ed) dan menyebut mushaf dengan “Mushaihaf” (mushaf kecil) apakah itu benar? 81

Pertanyaan 92.
Apakah benar pemakaian istilah Masihiyyah bagi Nashraniyyah? 81

Pertanyaan 93.
Apa hukum ungkapan “Si fulan yang diampuni (al-maghfur lahu)” atau “Si fulan yang dirahmati (almarhum)”? 83

Pertanyaan 94.
Sebagian orang menggunakan ungkapan “Yang tertulis di-dahi mesti terlihat mata”. Apakah yang telah ditakdirkan atas seseorang akan tertulis di dahinya atau apa? 84

Pertanyaan 95.
Bagaimana dengan sebagian orang yang menggunakan ungkapan “Ya maulaya” (wahai tuanku) ketika berbicara dengan raja? 84

Pertanyaan 96.
Sebagian orang berhujah, jika ia dilarang mengerjakan pekerjaan yang menyelisihi syari’at atau etika Islam, dengan mengatakan, “Orang lain juga melakukan hal ini”? 86

Pertanyaan 97
Bagaimana dengan ucapan “Wajhullah (wajah Allah) makanlah!’ 87

Pertanyaan 98.
Apa hukum perkataan “Ini bintang(keberuntungan) dari Nabi Muhammad”? 87

Pertanyaan 99.
Bagaimana dengan ungkapan “La haulallah”? 87

Pertanyaan 100.
Bagaimana dengan ungkapan “Semoga Allah tidak mempersilahkan”? 88

Pertanyaan 101.
Apa hukum ucapan: semoga Allah tidak Taqdirkan ? 88

Pertanyaan 102.
Ketika seseorang wafat sering kita mendengar atau membaca ungkapan berupa ayat, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya”. Atau ungkapan, “Ia telah berpindah ke dalam rahmat Allah”, atau “Si fulan yang diberi rahmat (almarhum)”, atau “almarhum fulan”, apa komentar anda atas semua ini? 89

Pertanyaan 103.
Apa pendapat anda ungkapan sebagian orang “Wahai Hadi wahai Dalil”? 89

Pertanyaan 104.
Bagaimana dengan ungkapan sebagian orang “Allah mengetahui ini dan itu?” 90

Pertanyaan 105.
Sebagian orang berkata dalam sebuah pepatah yang terkenal, “Mata itu selalu bersama dengan apa yang dilihatnya dan jiwa selalu bersama apa yang diinginkan nafsunya”. Apakah ungkapan ini benar secara mutlak? 91


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: