Bacaan Setelah Salam

12 06 2007

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (ثلاثا) اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.                  

1. “Aku minta ampun kepada Allah,” (dibaca tiga kali). Lantas membaca: “Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”[1]

Keterangan : As-Salam dlm hubungan dengan shalat, maka makna yang sesuai adalah menerima, artinya kita meminta kepada Allah menerima ibadah kita karena ibadah bisa saja diterima atau tidak diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala (Syarah Al Mumti’ 3/307). Makna As-Salam juga termasuk dari nama-nama Allah, maksudnya Engkau selamat (bersih) dari kejelekan-kejelekan, kekurangan-kekurangan, dan kerusakan. Darimu keselamatan artinya Engkau yang memberi keselamatan dan Engkau yang mencegah keselamatan.

ذاالجلال والاكرام = keagungan dan kebaikan (Tuhfatul Ahwadzi 2/262) 

 لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.

2. “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”[2]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ.

3. “Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepadaNya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”[3]

Keterangan : الثَّنَاءُ = sifat keindahan bagi Allah (‘Aunul Ma’bud 3/58) 

4– سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ (33 ×) لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

4. “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah. Dan Allah Maha Besar. (Tiga puluh tiga kali). Tidak ada Tuhan (yang hak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan. BagiNya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”[4]

 5. Membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (far-dhu).[5]

Keterangan surat  Al-Ikhlash. Ash-Shamad adl salah satu dari sifat-sifat Allah yang artinya Dzat Yang Disandari (dituju) oleh semua makhluk dalam menunaikan segala kebutuhannya. Maka semua makhluk yang di atas maupun di bawah membutuhkan dan meminta dicukupi semua kebutuhan oleh-Nya dan mengharap kepada-Nya dalam masalah-masalah yang mereka perlukan. Karena Dia Dzat Yang Maha Sempurna seluruh sifat-sifatNya, Maha Tahu yang sempurna pengetahuannya, Maha Pemurah yang sempurna pemurahNya dan Penyayang yang sempurna Penyayangnya, (Taisir Kalimur Rahman, Syaikh Abdur Rahman Nashir, Surat Al Ikhlash)

Keterangan surat Al-Falaq. Kita berlindung kpd Allah dari kegelapan malam yang didalamnya banyak berkeliaran ruh-ruh jahat dan hewan-hewan yang mengganggu, berlindung dari tukang-tukang sihir yang meniup sihirnya di ikatan-ikatan dan dari orang yang dengki yaitu orang yang suka hilangnya kenikmatan yang ada pada kita dan berusaha menghilangkannya. Termasuk golongan orang dengki adalah pandangan hipnotis (‘ain). (Taisir Kalimur Rahman, Syaikh Abdur Rahman Nashir, Surat Al-Falaq)

Keterangan surat An-Naas. Surat ini mencakup perintah utk berlindung kepada Pencipta, Pemilik, dan Sesembahan manusia dari setan – sumber dari segala kejahatan – yang dengan fitnah dan kejahatannya dia membisik-bisiki di dlm dada manusia. Ia khayalkan kejelekkan seolah kebaikan dan memperlihatkan kepada manusia dalam bentuk kebaikan dan memberi semangat utk mengerjakannya. Sebaliknya dia menghalang-halangi manusia dari kebaikan dan mempelihatkan kpd manusia dalam bentuk kejelekan. Setan senantiasa memberi bisikan-bisikan kpd manusia. Bila manusia itu mengingat Allah setan berhenti dari perbuatannya, dan kembali menggoda ketika manusia lupa mengingat Allah. Sudah sepantasnyalah kita meminta pertolongan & perlindungan kepada Allah pencipta dan pemilik manusia dari kejahatan setan. (Taisir Kalimur Rahman, Syaikh Abdur Rahman Nashir, Surat An-Naas) 

6. Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).[6]

Keterangan : Satu ayat ini mengandung makna yang sangat mulia dan tinggi sehingga pantas dikatakan ayat Al-Quran yang paling agung. Orang yang membacanya dengan memahami dan memperhatikannya, hatinya akan disinari dengan keimanan, keyakinan, dan ma’rifah serta akan terjaga dari kejahatan setan dari kalangan jin dan manusia. (Taisir Kalimur Rahman, Syaikh Abdur Rahman Nashir As-Sa’di, ayat kursi) 

7– لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.    (10× بعد صلاة المغرب والصبح)

7. “Tiada Tuhan (yang berhak disem-bah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan, bagi-Nya segala puja. Dia-lah yang menghidupkan (orang yang sudah mati atau memberi roh janin yang akan dilahirkan) dan yang mematikan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.” Dibaca sepuluh kali setiap sesudah shalat Maghrib dan Subuh.[7]

8– اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

8. “Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diteri-ma.” (Dibaca setelah salam pada shalat Subuh).[8]

Keterangan : Ilmu yg tdk bermanfaat bukanlah amal akhirat bahkan dapat menjerumuskan kpd kecelakaan. Oleh krn itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari ilmu yang tdk bermanfaat, rizki yg tdk baik (halal) dapat mengakibatkan siksa di akhirat dan setiap amal yang tdk diterima hanya membuat lelah jiwa dan raga. (Nailul Authar 2/350). 

Sumber : Buku Doa dan Dzikir Pilihan karya Sa’ad bin ‘Ali Wahb Al-Qohthoni Penerbit Maktabah ArRisalah


[1] HR. Muslim 1/414.

[2] HR. Al-Bukhari 1/255 dan Muslim 1/414.

[3] HR. Muslim 1/415.

[4] “Barangsiapa yang membaca kalimat tersebut setiap selesai shalat, akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti busa laut.” HR. Muslim 1/418.

[5] HR. Abu Dawud 2/86, An-Nasai 3/68. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 2/8. Ketiga surat dinamakan al-mu’awidzat, lihat pula Fathul Baari 9/62.

[6] “Barangsiapa membacanya setiap selesai shalat, tidak yang menghalanginya masuk Surga selain mati.” HR. An-Nasai dalam Amalul Yaum wal Lailah No. 100 dan Ibnus Sinni no. 121, dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ 5/329 dan Silsilah Hadits Shahih, 2/697 no. 972.

[7] HR. At-Tirmidzi 5/515, Ahmad 4/227. Untuk takhrij hadits tersebut, lihat di Zaadul Ma’aad 1/300.

[8] HR. Ibnu Majah dan ahli hadits yang lain. Lihat kitab Shahih Ibnu Majah 1/152 dan Majma’uz Zawaaid 10/111.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: