Anak Nakal….., Salah Siapa?

16 06 2007

Sabtu kemarin (15/06/07 M) waktu kajian rutin di Masjid Al I’thishom ditanyakan kepada Ustadz (Ust. Muslim – Kroya) maknanya demikian : “Agar kita paham dengan apa yang diberikan waktu kajian adalah dengan memperhatikan dengan baik. Namun yang saya lihat di kalangan ummahat ada diantara mereka yang membawa anak-anak dan ada diantara mereka lebih tersibukkan mengurusi anak sehingga tidak memperhatikan kajian dengan baik. Mohon nasihatnya.”

Dijawab oleh Ustadz (dengan makna) : “Seharusnya bagi orang tua mengajari anak-anak mereka dengan pengajaran yang baik. Anak adalah seperti botol yang kosong dan orang tua-nya lah yang mengisinya. Sebagai perbandingan ketika kami duduk di majelis Syaikh Muqbil rahimahullah, subhanallah mengagumkan keadaan anak-anak disana. Ketika dilaksanakan kajian mereka duduk dengan khidmat mendengarkan. Jika ada diantara mereka yang ngobrol atau bermain-main ditegur oleh syaikh atau terkadang dislentik telinganya. Lebih dari itu keadaan mereka mengagumkan, ketika ustadz Syaikh Muqbil menantang/menawarkan pertanyaan yang besar, dari kalangan anak-anak yang pertama mengacungkan tangan, saya ya syaikh..!” selesai ucapan ustadz Muslim.

Hal ini tidak hanya terjadi di Yaman, di Indonesia juga ada. Waktu berkunjung untuk dauroh di Ma’had/Ponpes Riyadlul Jannah, Cileungsi, Bogor saya melihat pemandangan yang sama. Ma’had ini adalah tempat tahfidz (hafalan AlQuran) yang santrinya dikhususkan untuk anak-anak kecil. Ketika ustadz memberikan ceramahnya anak-anak kecil ini telah siap dengan mejanya mendengarkan dan mencatat apa yang dikatakan oleh sang ustadz. Walaupun akhirnya ada yang tumbang….., tertidur.

Ustadz juga tak lupa memberikan pertanyaan kepada anak-anak, “Dimana Allah dan apa dalilnya?”.

Dari dua cerita diatas dapat disimpulkan bahwa sikap anak adalah tergantung pola pendidikan orang yang mengajari mereka. Pada dasarnya anak kecil mudah sekali dibentuk oleh karena itu harus diperhatikan dengan baik.

Betul? He he he yang nulis juga masih belum punya pengalaman. Atau anda punya metode yang lain?

Wallahu a’lam bishshowab, dan Allah lebih mengetahui mana yang benar


Aksi

Information

6 responses

2 11 2007
debi

Pengalaman pribadi…
saya juga agak terusik dan membuyarkan konsentrasi jikalau ada ummahat membawa anak2 mereka..terkadang tidak hanya satu malah semua anaknya diajak…mungkin agar adek2 kecil ini terbiasa ikut taklim….tapi yah yang namanya anak kecil sukanya lari2..teriak2…nangis2..berebutan jajan…wajarlah…Dan yang bikin agak “mangkel” umminya ndiemin aja….khusnudzon aj deh mungkin terlalu sayang…Apalgi teman2 yg pada dasarnya suka anak kecil..bukannya dengerin ustadz ehhh malah mainin baby2 yang lagi lutu2nya…..Walhasil pada ga ikut taklim deh….

Yah ini buat pelajaran kita semua deh…
To teman2 taklim yuk…jangan malezzz lagi ya….

16 01 2008
dinsa

susah jg sih banyak faktor yang mempengaruhi anak sehingga anak jadi susah diatur, apalagi anak suka di manjain neneknya. biasanya yang saya alami malah bikin bentrok ama orang tua karena beda prinsip dengan kita tentang bagaimana meluruskan sikap anak kita. Faktor lingkungan apalagi sangat mempengaruhi banget pada perkembangan perilakunya. Oleh karena itu kita sbg orang tua harus lebih memberikan perhatian… gimanapuna nakalnya anak kita.

16 01 2008
masbadar

bismillah,
semua puji bagi allah dan sholawat bagi rosulnya…

mbokya kalo ta’lim itu nglihat sikon..
bagi panitia juga harus membatasinya..
jika ta’lim berkenaan dengan masalah rumah tangga, masalah mendidik anak atau tarbiyyatun nisa…ya mungkin membawa anak bisa jadi di sarankan kalo materi dan kajianmendukung…
bisa juga diwajibkan…biar sekalian belajar danpraktek..

tapi kalo ta’limnya berkenaan dengan masalah2 yg menghendaki konsentrasi tinggi..misalnya ta’lim masalah aqidah, fiqih atau lughoh yg gak kaitannya dng masalah usroh wa nisaa…ya jangan bawa anak-anak…apalagi kalo ustadznya juga masih bujangan misalnya..

trus tempat juga harus mendukung, kalo ta’limnya di lapangan atau tmpt2 terbuka, misalnya karena tabligh akbar, ya jangan berepot2 diri..bisa2 anak ngilang..

kalo anak2 itu nakal, ya emang anak2 begitu kok..fitrah..
kalo gak pengen repot ya jangan punya anak…

ini juga fitnah…anak banyak gak ke-urus…
capek..repot…banyak anak juga bikin istri kita yang tadinya sewaktu sebelum dipinang…adalah akhwat yg cantik…seksi…pokoknya segalanya lah..

ketika anak udah banyak…repot gak sempet ngurus diri..jadi gak karuanlagi bentuknya..pokoknya gak menarik lagi..

memang, banyak anak repot…yah …itulah..
apalagi kalo anak2 masih balita semua..
kasihan si umi…

nah..punya cerita ttg repotnya banyak anak? mari kita berbagi…email saya di masbadar@yahoo.co.id

nb: saya tulis comment ini sambil sakit kepala karena kurang tidur semalem…si kecil hanif rewel…pagi2 udah ribut sama tetehnya….belum lagi abangnya yg ngambek gak mau mandi pagi…

18 01 2008
visitor

Mencintai anak-anak termasuk Mahabbah (rasa cinta) yang menjadi tabi’at manusia. Akan tetapi, jangan sampai Mahabbah itu menjadikan kita lalai dari kewajiban beribadah dan mengingat Allah Azza wa Jalla yang efek negatifnya dapat merubah Mahabbah tabi’at menjadi Mahabbah yang Maksiat – Wal’iyadzubillah-

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi.”(Q.S. Al-Munafiqun : 9)

Barakallahu fiik.

18 01 2008
masbadar

setuju sekali…sdr..visitor…
tapi ngomong2 sudahkah anda merasakan mahabbah itu..maksud saya sudahkah anda mempunyai anak2?

salam kenal, baarokalloohu fiik..

21 01 2008
visitor

Salam kenal juga, Akh. ALhamdulillah ‘ala kulli hal, ana belum punya anak. Itu cita-cita yang masih tertunda. Ber-‘Ilmu dulu sebelum ber-buat. Wa fiika Barakallah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: