Kufur Besar dan Macamnya

1 09 2007

Oleh Al Ustadz Abul Mundzir- Dzul Akmal as Salafiy Lc

sumber: http://www.thullabul-ilmiy.or.id/blog/?p=120

header-tholabui-ilmiy.jpg

Kufur besar menjadikan orang yang bersangkutan keluar dari islam. Kufur besar yaitu kufur dalam I’tiqod (keyakinan). Jenis-jenisnya amat banyak sekali, diantaranya :

1. Kufur Dengan Cara Mendustakan

Yaitu dengan mendustakan (tidak mempercayai) al Quraan atau hadist atau dengan mendustakan sebahagian yang ada pada keduanya. Seperti sekarang ini kelompok ingkarus sunnah (al Quraaniyyuun). Yang mana mereka tidak meyakini kebenaran (keotentikan) hadist. Sehingga jika kita perhatikan di dalam ceramah-ceramah, tulisan, dakwah mereka tidak terdapat satupun hadist Nabi. Maka ajaran ingkarus sunnah adalah ajaran kufur kepada Allah Tabaaraka wa Ta`aala. Allah Jalla wa `Alaa berfirman :

((وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى)). النجم (3-4).

Artinya : “Dan tidaklah Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Tidak lain tidak bukan ucapan beliau itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” An Najm (3-4).
As Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy berkata dalam menafsirkan ayat yang mulia ini : “Bukan pembicaraannya semata mata muncul dari hawa nafsunya. Dia juga tidak akan mengikuti kecuali apa-apa yang telah diwahyukan kepadanya, dari bentuk petunjuk dan taqwa pada dirinya sendiri dan untuk orang lain.” (1)

Allah Ta`aala juga berkata di ayat lain :

((وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه)). الحشر (7).

Artinya : “…..Apapun yang diberikan ar Rasul kepada kalian, maka kalian ambillah. Dan apapun yang dilarang kalian daripadanya maka tinggalkanlah….” Al Hasyr (7).

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata ketika menafsirkan ayat ini : “Ini mencakup secara keseluruhannya terhadap pokok-pokok Din dan cabang-cabangnya, zhohirnya dan bathinnya, bahwasanya apapun yang dibawa oleh Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam, diwajibkan atas hamba-hamba tersebut untuk menerimanya dan mengikutinya. Dan tidak dibenarkankan untuk menyelisihinya. Hal ini karena keputusan Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam atas sesuatu sama dengan keputusan Allah Ta`aala atasnya. Tidak ada keringanan dan `udzur bagi seseorang untuk meninggalkannya. Tidak dibolehkan juga bagi dia untuk mendahulukan perkataan siapapun diatas perkataan Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam.” (2)
Bertepatan dengan ayat yang mulia ini telah berkata shahabat Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhu :

لعن الله الواشمات والمستوشمات والمتنمصات، والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله! فقالت له امرأة في ذلك، فقال: ومالي لا ألعن من لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في كتاب الله؟! قال الله تعالى : ((وما آتاكم الرسول……)). الآية.
Artinya : “Allah telah mela`nat pembuat tato dan orang yang miminta untuk dibuatkan tato, orang yang meminta untuk dicabut alis matanya, dan wanita yang mengikir giginya untuk kecantikan dalam rangka merobah-robah ciptaan Allah! Maka berkata seorang wanita kepada beliau tentang demikian, Ibnu Mas`uud menjawab : kenapa saya tidak mela`nat seseorang yang telah dila`nat oleh Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam sementara hal itu terdapat dalam al Quraan?!” lantas beliau membaca ayat di atas. (3)

Di dalam hadist yang lain juga Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam berkata :

“ألا إني أوتيت الكتاب ومثله معه، ألا يوشك رجل شبعان على أريكته يقول : عليكم بهذا القرآن؛ فما وجدتم فيه من حلال فأحلوه، وما وجدتم فيه من حرام فحرموه….”

Artinya “Ketahuilah sesungguhnya telah diberikan kepada saya al Kitab dan semisalnya (4) bersamanya. Ketahuilah hampir-hampir seorang lelaki kekenyangan di atas tempat tidurnya berkata : diwajibkan atas kalian untuk berpegang dengan al Quraan ini. Maka apapun yang kalian dapatkan tentang yang halal padanya maka halalkanlah, dan apa apa yang kalian dapat tentang yang haram padanya maka haramkanlah.” (5)

Dari penjelasan ayat dan hadist di atas dapat kita pahami bahwa bagaimana seseorang itu bisa dikatakan sebagai seorang muslim, sementara Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam tidak dia ikuti (tha`ati). Allah berfirman :

Artinya : Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah , ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Ali Imron : (31).

Berkata as Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy dalam menafsirkan ayat ini : “Ayat ini merupakan mizan (timbangan/acuan), yang dengannya diketahuilah siapa yang betul-betul mencintai Allah Tabaaraka wa Ta`aala, dan siapa yang hanya da`waan omong kosong saja. Bahwa dia mencintai Allah, maka tanda cinta kepada Allah `Azza wa Jalla adalah dengan mengikuti Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam. Dimana Allah Subhaana wa Ta`aala telah menjadikan pengikutan kepada RasulNya Shollallahu `alaihi wa Sallam serta seluruh apapun yang dia da`wahkan kepadaNya sebagai jalan untuk menggapai kasih sayang Allah Subhaana wa Ta`aala dan keridhoanNya. Oleh karena itu tidak akan didapatkan kasih sayang Allah Jalla wa `Ala, keridhoanNya dan balasan dariNya kecuali dengan membenarkan seluruh apapun yang dibawa Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam baik al Kitab dan as Sunnah dan mentha`ati keduanya, dan menjauhi larangan dari keduanya.
Maka barangsiapa yang mengamalkan demikian, Allah akan mencintainya dan akan diberi balasan sebagai balasan orang orang yang dicintai olehNya, diampuni dosa dosanya, Allah Tabaaraka wa Ta`aala akan menutupi `aib `aibnya.” (6)

Jadi mancintai Allah tidak akan bisa terbukti kecuali dengan mencintai Rasulullah. Mencintai Allah tidak terbukti benar kecuali dengan mengikuti Rasulullah. Atau seseorang yang hanya mempercayai sunnahnya saja, dan dia meninggalkan al Quraan maka diia juga kafir. Demikian juga seseorang yang tidak mempercayai keduanya maka dia kafir kepada Allah, berdasarkan firman Allah:

Artinya : ”Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang orang yang mengada adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang orang yang kafir?” Al-Ankabut : (68). Demikian juga dalam ayat yang lain Allah Tabaaraka wa Ta`aala berfirman :

Artinya : ”Apakah kamu beriman kepada sebahagian al Kitab (Taurat) dan kufur(mengingkari) terhadap sebahagian yang lainnya?” Al Baqorah : (85).

2. Kufur karena enggan dan takabbur, padahal sebenarnya ia percaya.

Yaitu tiadanya ketundukan pada kebenaran meskipun ia mangakui adanya kebenaran tersebut. Sepertinya kufurnya iblis la`natullahi `alaihi. Iblis mengakui Adam adalah mahluk yang mulia, yang memiliki ilmu, lagi diciptakan oleh kedua tanganNya Subhaana wa Ta`aala. Akan tetapi dia sombong dan enggan untuk melakukan sujud kepada Adam. Para `ulama telah menjelaskan tentang sujud disini maksudnya adalah sujud penghormatan kepada Adam `Alaihis Sholaatu was Salaam sebagai makhluk yang mulia yang diciptakan oleh kedua tanganNnya Tabaaraka wa Ta`aala, sebagaimana Allah berfirman :

Artinya : ”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian semuanya kepada Adam!” maka sujudlah para Malaikat kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang orang yang kafir.” Al-Baqoroh : (34).

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata ketika menafsirkan ayat yang mulia ini : “Kemudian Allah Jalla wa `Alaa memerintahkan kepada mereka (para Malaikat) untuk sujud kepada Adam Shollallahu `alaihi wa Sallam sebagai penghormatan dan pemuliaan baginya, dan sebagai peng`ubudiyahan terhadap Allah Ta`aala, mengikuti perintahNya. Maka segera mereka seluruhnya sujud kepada Adam, kecuali iblis dia enggan, tidak mau sujud, sombong terhadap perintah Allah Tabaaraka wa Ta`aala ketika diperintahkan untuk sujud kepada Adam `Alaihis Sholaatu was Salaam sambil berkata : – yang Allah Subhaana wa Ta`aala menceritakan pada ayat yang lain :
((أأسجد لمن خلقت طينا)). الإسراء (61).
Artinya : “….apakah saya akan sujud kepada seorang yang Kamu ciptakan dari tanah?” Al Israa (61).
Enggan dan kesombongan yang muncul dari dia ini merupakan natijah/kesimpulan kekufuran atas iblis tersebut. Maka nampaklah ketika itu permusuhannya terhadap Allah Subhaana wa Ta`aala dan Adam `Alaihis Sholaatu was Salaam serta kekufuran dan kesombongannya.” (7)

Makna sombong telah disebutkan oleh Rasulullah e dalam satu hadist yaitu :

“لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر” قال رجل : إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة. قال : “إن الله جميل يحب الجمال. الكبر بطر الحق وغمط الناس.”
Artinya: “Tidak akan masuk sorga seseorang yang dalam hatinya sebesar biji sawi bentuk kesombogan”, berkata seorang lelaki : sesungguhnya seorang lelaki menyenangi pakaiannya indah dan sandalnya cantik. Berkata Rasulullahu Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allah sangat Indah dan mencintai keindahan. Yang dikatakan sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan orang yang menyampaikan kebenaran itu.” (8)

3. Kufur dengan cara ragu-ragu terhadap adanya hari kiamat, masalah-masalah ghoib atau mengingkari dan tidak mempercayainya.

Bentuk kekufuran seperti ini akan kita temukan pada para falasifah (ahli filsafat), mantiq dan ahli `ilmu kalam. Kebanyakan dari mereka menentang al Quraan dan as Sunnah. Apabila mereka mendapatkan satu ayat atau hadist yang tidak cocok dengan nalar/logika (`aqal) mereka, maka mereka campakan ayat atau hadist tadi. Sebab para pemuja `aqal ini, mereka berkeyakinan `aqal adalah agama. Sehingga mereka berani mengamputasi (memenggal/menghilangkan) nash nash syar’iy apabila bertentangan dengan logika. Mereka tidak berhukum dan tidak menjalani syari`at ketika bertabrakan dengan `aqal. Maka sikap seorang muslim harus tunduk dan patuh menjalankan syariat islam dan apa-apa yang telah diputuskan oleh Nabi kita Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam. Sebagaimana Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengatakan :

((فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما)). النساء (65).

Artinya : “Maka demi Rabbmu, mereka pada haqeqatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” An Nisaa (65). Di ayat lain juga Allah `Azza wa Jalla berfirman :

((وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا)). الأحزاب (36).

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mu`min dan pula bagi wanita mu`minah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang sangat nyata.” Al Ahzaab (36).

Karena bagaimanapun juga Din Islam pasti relevan dengan zaman, waktu dan dalam segala keadaan. Bukan Din (Agama) yang bersifat kontemporer. Jadi kalau Din Islam dianggap bertentangan dengan `aqal/logika, maka `aqal kita harus diperiksa; apakah `aqal kita ini sehat atau tidak? Sebab `aqal yang sehat pasti akan cocok dengan dalil al Quraan dan as Sunnah. Sebaliknya `aqal yang sakit adalah `aqal yang tidak akan cocok dengan dalil dalil yang shoreh (terang). Sementara `aqal setiap manusia itu pendek dan terbatas, tidak mampu menjangkau atau mencerna segala hikmah ajaran Allah baik dalam bentuk perintahNya dan laranganNya.

Marilah kita simak pendalilan kufurnya orang yang ragu-ragu terhadap adanya hari kiamat.
Alloh berfirman :

Artinya: ”Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Robbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun kebun itu”. Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Robb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki laki yang sempurna?” Al-Kahfi : (36-37).

4. Kufur dengan cara berpaling

Yaitu berpaling dari ajaran Islam serta tidak mempercayainya .Dalilnya adalah firman Alloh:

Artinya : ”Dan orang orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.“ Al Ahqaaf : (3).

As Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy berkata : “Ketika Allah Jalla wa `Alaa mengkhabarkan tentang demikian-Dialah yang paling benar perkataanNya, telah Dia tegakkan dalil, dan menerangi jalan-telah mengkhabarkan-namun demikian- sesungguhnya segolongan dari makhluq (manusia) sungguh-sungguh telah enggan; tidak lain tidak bukan adalah bentuk berpalingnya mereka dari kebenaran, dan penentangan terhadap da`wah ar Rasul Shollallahu `alaihi wa Sallam, kemudian Allah Tabaaraka wa Ta`aala mengatakan ayat di atas :
((والذين كفروا عما أنذروا معرضون)). الأحقاف (3).
Adapun orang orang beriman, takkala mereka mengetahui haqiqat keadaan sebenarnya, mereka menerima washiyat Rabb tersebut, diambil washiyat tersebut dengan tunduk dan mengagungkannya, maka sudah tentu mereka akan menang di atas setiap kebajikan dan dijauhkan mereka dari seluruh kejelekkan.” (9)

5. Kufur dengan cara nifaq.

Yaitu menampakkan kepercayaan terhadap Islam dengan lisan, tetapi tidak mengakui dalam hati serta menyelisihi dalam amal perbuatan, hal ini berdasarkan firman Alloh:

Artinya : ”Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” Al Munaafiqun ( 3).
Berkata as Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala: “Yang dihiasi bagi mereka kemunafiqan disebabkan karena mereka tidak kokoh di atas keimanan. Bahkan; “mereka beriman kemudian menjadi kafir lagi, lalu dikunci mati hati-hati mereka tersebut,” yang sekira kira tidak akan masuk kedalam hati mereka sedikitpun kebajikan.” (10)

Artinya : Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang orang yang beriman.” Al Baqarah ( 8).
Telah berkata as Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala ketika menafsirkan ayat ini: “Ketahuilah bahwa nifaq itu adalah: menampakan kebajikan dan menyembunyikan kejelekkan, dan termasuk dalam difinisi ini “an nifaqul i`tiqaadiy (nifaq secara i`tiqad) dan an nifaqul `amaliy (nifaq secara `amalan), sebagaimana yang telah disebutkan oleh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam dalam hadistnya :

“آية المنافق ثلاث : إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا ائتمن خان.”
Artinya : Berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Tanda orang munafiq ada tiga : apabila berbicara dusta, dan apabila berjanji selalu munkir, dan apabila dipercaya khianat.” (11)

As Syaikh `Ali Hasan al Halabiy al Atsariy mengatakan : “Seorang muslim itu hendaklah dia jujur dalam pembicaraannya, jujur dalam janjinya, jujur dalam menunaikan apa dipercayakan kepadanya.
Tidak didapatkan pada dirinya kecurangan dan penipuan. Tidak diketahui juga kedustaan dan sifat nifaq. Sebab jujur adalah merupakan kepala dari seluruh kebajikan. Sedangkan dusta adalah merupakan kepala dari seluruh kerusakan dan kejelekan.
Kejujuran dia terhadap ini seluruhnya akan menjadikan dia jauh dari seluruh sifat sifat yang jelek dan penyakit penyakit hati. Dia akan mengerjakan setiap apa yang akan dia kerjakan semata mata karena Allah Subhaana wa Ta`aala. Bukan karena kepentingan dunia atau bukan juga karena ingin popularitas dan ingin disebut sebut.” (12)

6. Kufur dengan cara menentang.

Yaitu orang meng-ingkari sesuatu dari Agama yang diketahui secara umum, seperti meng-ingkari salah satu rukun dari rukun iman atau rukun Islam. Sebagaimana orang yang meniggalkan sholat karena mempercayai bahwa sholat itu tidak wajib, maka orang tersebut adalah kafir dan murtad dari Din Islam.
Demikaianlah pula halnya dengan seorang hakim (penguasa) yang menentang hukum Allah, tidak mempercayai tentang kebenaran dan keabsahan hukum Allah `Azza wa Jalla. Atau dia beri`tiqad bahwa hukum Allah Tabaaraka wa Ta`aala tersebut tidak relevan lagi dengan zaman atau mensejajarkan hukum Allah Jalla wa `Ala dengan hukum hukum thoghut yang ada sekarang ini.

Maka hakim yang seperti ini akan kafir berdasarkan firman Allah:

Artinya : “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang orang kafir.“ Al Maidah (44).

Ibnu Abbas berkata : “Barang siapa menentang apa yang diturunkan oleh Allah maka dia adalah kafir.“

Sumber bacaan : “Minhaajul Firqatun Naajiyah”, karya as Syaikh Muhammad bin Jamiil Zainu, hal.91-92 cetakan kedelapan belas.

———————-
Footnote:
(1) Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan, karya as Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy cetakan Muassasah ar Risaalah.
(2) Taisiirul Kariimir Rahmaan
(3) Hadist in dikeluarkan oleh : al Bukhaariy (al Imam al Bukhaariy (5/365 no. 4886,4887,5931,5939,5943,5948), Muslim (3/1678 no.2125), at Tirmidziy (5/96-97 no.2782), an Nasaaiiy (7/572 no.5268-5270), ad Daarimiy (2/279-280), Ahmad (1/434), kesemuanya dari jalan Abu `Abdirrahmaan Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhu.
(4) Berkata al Imam al Khatthaabiy rahimahullahu Ta`aala tentang perkataan Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam :
“أوتيت الكتاب ومثله معه”
Terkandung dari dua sisi penafsiran; pertama : “ma`nanya adalah bahwa Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam diberikan kepadanya wahyu bathin tanpa dibaca sebagaimana diberikan kepada beliau Shollallahu `alaihi wa Sallam wahyu yang zhohir dan dibaca. Kedua : ma`nanya adalah diberikan kepadanya al Kitab sebagai wahyu yang dibaca, dan diberikan juga penjelasan, artinya diidzinkan kepada Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam untuk menjelaskan apa apa pada al Kitab, meliputi dan mengkhususkan, dan menambah dan mensyari`atkan atasnya apa apa yang tidak terdapat dalam al Kitab, maka adalah yang demikian juga sebagai kewajiban hukum dan dilazimkan untuk di`amalkan, seperti zhohir yang dibaca dari al Quraan itu. (Abu Daawud 5/10).
(5) Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Abu Daawud (5/10-11 no.4604), at Tirmidziy (5/2664), Ibnu Maajah (1/6 no.12) keseluruhannya dari jalan al Miqdaam bin Ma`diikarib al Kindiy radhiallahu `anhu.
(6) “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiir Kalaamil Mannaan”, as Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy.
(7) “Taisiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsir Kalaamil Mannaan”, as Syaikh `Abdurrahman as Sa`diy.
(8) Hadist ini dikeluarkan oleh : al Imam Muslim (1/93 no.91), Abu Daawud (4/352 no.4092), at Tirmidziy (4/317-318 no.1999), Ahmad (1/385,427), keseluruhannya dari jalan Abu Hurairah dan Ibnu Mas`uud radhiallahu `anhuma.
(9) “Taisiiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiir Kalaamil Mannaan”, as Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala.
(10) “Taisiiirul Kariimir Rahmaan fi Tafsiir Kalaamil Mannaan”, as Syaikh `Abdurrahmaan as Sa`diy rahimahullahu Ta`aala.
(11) Hadist ini dirirwayatkan oleh al Imam al Bukhaariy (3/223 no. 2682), Muslim (1/78 no.107 dan 108), at Tirmidziy (5/20 no.2631). Keseluruhannya dari jalan Abu Hurairah radhiallahu `anhu.
(12) “al Arba`uun hadistan fi as Syakhshiyatil Islaamiyyah”, hal.31-hadist yang ketiga belas, karya as Syaikh `Ali Hasan.

<!– –>


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: